Aprinus Salam: Sastra Harus Mengandung Unsur SARA untuk Menggali Kebenaran
Sastra sebagai bentuk ekspresi seni memiliki potensi besar untuk menyoroti berbagai isu nyata, termasuk Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA). Namun, menurut Prof. Aprinus Salam, sastra Indonesia saat ini tampak enggan menggali isu-isu agama, suku, dan ras, serta merasa tidak nyaman mengeksplorasi politik golongan. Hal ini disebabkan oleh ketakutan yang telah lama tertanam, ungkapnya dalam pengukuhan sebagai Guru Besar di UGM.
Baca juga : Gianluigi Donnarumma Menjadi Pahlawan Manchester City dengan Penyelamatan Krusial
Sastra dan Tantangan SARA
Dalam pidatonya yang berjudul 'Sastra, SARA, dan Politik Salah Paham', Aprinus menyebutkan bahwa karya sastra seperti 'Salah Asuhan' dan tetralogi 'Bumi Manusia' menghadapi tantangan besar karena mengandung unsur SARA. Novel-novel ini dianggap berbahaya oleh kekuasaan karena mengungkap rasisme, feodalisme, dan ketimpangan sosial yang tidak disukai oleh penguasa.
Aprinus menegaskan bahwa sastra memiliki peran penting dalam menjelaskan kebenaran dan mengajak pembaca untuk menerima perbedaan keyakinan. Belajar dari masa Orde Baru, ia menyoroti bagaimana kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menekan karya sastra yang dianggap berbahaya bagi kekuasaan.
Peran Sastra dalam Demokrasi
Menurut Aprinus, pelarangan karya sastra yang mengandung SARA bukan lagi demi keamanan negara, melainkan untuk melindungi kepentingan politik tertentu. Ia menekankan bahwa negara seharusnya tidak membiarkan masyarakat hidup dalam kesalahpahaman. Sastra harus menjadi ruang pencarian kebenaran agar masyarakat semakin cerdas.
Dengan perkembangan media sosial, Aprinus melihat peluang bagi sastra untuk meramaikan demokratisasi. Namun, ia juga mengkritik pemerintah yang semakin tidak memahami bagaimana sastra bekerja. Ia berharap ke depan tidak ada lagi larangan menyinggung SARA dalam lomba sastra, agar sastra terus berperan dalam menjaga kebenaran.
Aprinus mengakhiri pidatonya dengan harapan agar sastra dapat terus menghasut dan bersama-sama mencari kebenaran. Ia percaya bahwa sastra yang mengandung unsur SARA dapat membantu masyarakat memahami kompleksitas dunia dan mendorong terciptanya masyarakat yang lebih adil dan setara.